Salam Kenal, Gunung!

ibu dan bayi pendaki
Salam kenal, gunung dan halimun!

Renjana, hari ini lunas sudah janji ibu untuk mengenalkanmu pada dinginnya udara subuh di tempat tinggi, kerlip cahaya lampu kota di kejauhan, kemilau bintang di langit luas, hingga sejuknya embun yang jatuh dan menetes tepat di keningmu. Di pagi yang sama lunas juga janji ibu untuk mengajakmu menyaksikan mentari terbit dari ufuk timur untuk pertama kalinya.

Kau memang tak pernah meminta ibu untuk membawamu ke tempat-tempat ini dan mengenalkanmu dengan hal-hal semacam ini, nak. Ini murni pemenuhan janji serta penggenapan mimpi yang sudah ibu daraskan sejak kau belum ada. Mungkin ada orang-orang yang akan menganggap ibu terlalu memaksakan diri, mengejak bayi sekecil kamu trekking dini hari guna menikmati terbitnya mentari di tempat tinggi. Mereka menganggap semua ini ibu lakukan demi gengsi.

Jawabannya adalah bukan, nak. Membawamu menuju ketidaknyamanan adalah hal penting yang ingin ibu kenalkan kepadamu sejak dini. Supaya kau tau bahwa hidup ini keras, sehingga kau harus tumbuh menjadi orang yang kuat serta tangguh. Dan gunung adalah salah satu tempat terbaik untuk belajar.

Mungkin saat ini kau memang belum paham dengan semuanya, nak. Tapi tak mengapa. Melihatmu tertawa girang saat ibu tunjukkan mentari yang terbit malu-malu adalah kebahagiaan. Melihatmu berlarian di puncak batu sembari mengumpulkan daun-daun kering di pagi yang dingin adalah kebahagiaan. Melihatmu begitu menyatu dengan semesta dan tak mengeluh dengan segala keterbatasan adalah anugerah.

Setelah ibu kenalkan kau pada laut, kali ini ibu kenalkan engkau pada gunung. Nak, kau harus tau. Tak peduli tinggi maupun pendek, setiap gunung memiliki tantangannya sendiri. Karena itu kau harus mempersiapkan diri sebelum mendakinya. Jangan pernah sombong dan menganggap gunung itu mudah. Ini bukan tentang penaklukkan, tapi tentang perjalan menziarahi diri. Gunung adalah ibu semesta. Hormatilah gunung seperti kau menghormati ibumu. Jaga dia. Jangan pernah lukai.

Arcapada berarti semesta raya sekaligus salah satu kawasan di Gunung Semeru. Nama ini ibu sematkan kepadamu supaya kau bisa menjadi anak yang mampu melebur dengan semesta, sekaligus mencintai gunung. Semoga kau mampu menyandang nama ini dengan baik.

Nak, pagi ini ibu membawamu menyaksikan sunrise dari puncak Gunung Gambar. Semoga kelak kita masih diberi kesempatan untuk menyaksikan matahari terbit dari gunung-gunung lain di tempat jauh dan lebih tinggi. Dan semoga kelak kita bisa bersama-sama mencumbu arcapada.

Lelaki kecilku, ini pagimu, ini gunungmu, nikmatilah!

Jogja, 30 Agustus 2016
baru diunggah sekarang karena kemarin-kemarin biyungnya sok sibuk
Default image
Elisabeth Murni

Ibu Renjana | Buruh partikelir paruh waktu | Sesekali bepergian dan bertualang.

Articles: 243

26 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

  1. Aku semakin salut dengan Mba Elisabeth.
    Si dedeknya diajakin naik gunung. Sini Mba dedenya aku ajakin naik Ciremai. Hehe…
    Jadi terkenang masa kecil, saat tempat bermainku hanya gunung dan sawah.

    • Soalnya emaknya gak tegaan kalau harus ninggal bayi di rumah. Lagian juga nggak ad ayang dititipin. Jadinya kemanapun simboknya kerja dan pergi selalu dicangking hihihi.

      kesanalah. nginep. worthed banget. asyik buat melamun #eh

  2. Suka sama gaya penulisannya mbak
    Btw kita punya obsesi yang sama nih soal mengenalkan gunung, laut dan alam pada anak. Jadi kami seringnya liburan ke alam terbuka dibanding mall

    • Aha, tos dulu dong mbak! Ternyata bukan cuma saya dan suami aja yang punya obsesi mengenalkan anak pada semesta luas sejak dini. Iya dari hitungan bulan anak bayi ini udah diajakin ngider mula ma emak bapaknya 🙂

  3. Saya terharu membaca tulisan ini. Keharuan yang mungkin akan lebih, jika kelak Renjana membaca langsung tulisan ini. Tulisan dari ibunya sendiri. Saya jadi kepengen kelak seperti itu, bahkan sudah saya rencanakan (Meskipun belum menikah hahaha). Karena Bapak saya (meskipun tidak pernah berkegiatan di alam bebas) mendukung kegiatan alam bebas dan pernah bilang, “Keluarlah, biar tahu bumi Tuhan itu luas”…

    Rasanya tak sabar saya menanti kisah si Renjana “debut” mendaki gunung bersama sang Ibunya kelak 🙂

    • Ah saya nyontek kalimat bapak sampeyan ya mas, itu ngena banget. Kelak akan saya katakan itu pada Renjana.

      “Keluarlah, biar tahu bumi Tuhan itu luas…”

      Saya itu pelupa, karena itu saya ingin mengekalkan momen-momen pertama bersama bRe melalui tulisan. Semoga kelak dia suka saat membacanya.

    • Wah, dibanding Max & dr Nyomi kami mah cuma sisa kacang yang nempel di remah-remah rempeyek mas hehehe. Saya hanya berusaha mengenalkannya pada dunia yang saya cinta dan juga semesta raya. Masalah kelak dia akan gemar bertualang ke gunung atau tidak biarkan itu menjadi pilihannya sendiri 🙂