Tentang Ini Itu yang Melintas di Kepala dan Akhirnya Lenyap Begitu Saja

Pernah enggak sih teman-teman memiliki banyak fragmen yang memenuhi kepala? Baik tentang kejadian yang terlihat di depan mata maupun hanya cerita buatan yang berkelindan di angan. Saya pernah. Tidak hanya pernah, sering malah.

Banyak hal-hal di sekitar yang sangat menarik, tindakan-tindakan yang menyentuh hati, atau kejadian yang tak akan terlupakan. Rasanya semua ingin saya abadikan melalui kata-kata supaya tidak mengabur. Saya pun mulai menyusun kisah. Menata ulang bagian demi bagian. Bahkan membuat draft-nya di notes.

Saya sudah memikirkan bahwa kisah tersebut akan menyenangkan untuk dibaca. Siapa tahu justru menjadi inspirasi atau referensi. Saya senyum-senyum sendiri dan hati merasa hangat.

Namun, nyatanya semua hanya berhenti sampai di situ. Hanya berhenti di kepala. Hanya menjadi catatan kasar yang memenuhi buku agenda. Saya tidak jadi menuliskannya. Lantas, semuanya berlalu begitu saja.

Begitu terus siklusnya. Berulang kali. Hingga sampai saat ini. Entah apa penyebabnya.

Lantas ingatan saya membawa ke belasan tahun lalu, saat awal-awal menjadi pekerja kantoran. Saat itu saya juga baru pertama kali berkenalan dengan blog dan Kompasiana. Selain bekerja, hari-hari saya dipenuhi dengan mengisi blog. Rasanya sungguh sangat menyenangkan. Bahkan, ada masanya saya menulis setiap hari. Rasanya semua hal ingin saya ceritakan dan saya bagikan kepada khalayak.

Pada masa itu, saya juga kerap melakukan liputan lapangan. Saya bertemu dengan banyak kawan. Ada seorang kawan jurnalis yang saya tahu dia punya blog. Tulisan dia di blog sungguh saat menyenangkan. Saya suka sekali membacanya. Sayangnya, dia sangat jarang menulis.

Saya kerap bertanya-tanya dalam hati. Kenapa dia nggak rajin nulis, ya? Padahal kan cerita dia seru-seru, aktivitas dia menarik, dan seharusnya ada banyak hal yang bisa diceritakan. Kalau saya jadi dia mah pasti tiap hari saya nulis di blog. Begitu pikir saya kala itu.

Lalu tibalah masa sekarang.

Sudah bertahun-tahun, tepatnya sejak 2020, intensitas ngeblog saya makin berkurang. Dulu, semalas-malasnya saya, tiap bulan minimal ada 2 unggahan. Namun, sejak 2020, dalam setahun saya hanya posting 14 artikel.

Itu masing mending. Di tahun 2021 saya sama sekali tidak posting apa pun. Sementara hosting dan domain masih bayar terus. Pada tahun 2022 saya posting 5 artikel. Beberapa di antaranya adalah urusan pekerjaan. Kemudian, di tahun 2023 itu, saya baru posting 3 artikel. Itu juga lagi-lagi karena 2 artikel adalah job.

Gila. Kemana perginya Sasha yang dulu ambis nulis dan hobi ikutan lomba ini itu?

Saya pun mencoba mengurai benang yang kusut. Mencari jawab atas keganjilan ini. Apa sebenarnya alasan yang membuat saya menjadi loyo dalam ngeblog? Kok jadi kehilangan gairah ya? Padahal dulu begitu bersemangat.

Setelah melalui perenungan yang tidak begitu dalam, saya bisa menyimpulkan beberapa hal. Mungkin, ini hal-hal yang membuat saya jadi jarang ngeblog.

Saat Hobi Bercampur Menjadi Pekerjaan

Saat hobi jadi pekerjaan capek juga bos!

Saya pernah membaca tulisan seseorang. Dia bilang bahwa sebaiknya hobi tidak perlu menjadi pekerjaan. Sebab, jika hobi sudah menjadi pekerjaan, maka feel-nya akan berbeda. Inti dari hobi adalah sebagai pelepas penat dari rutinitas. Namun, jika yang seharusnya menjadi pelepas penat malah berubah menjadi sumber tekanan, bagaimana kita bisa menikmati aktivitas tersebut?

Awalnya saya tidak terlalu mempercayai ucapannya. Benak saya selalu membantah. Bukankah kalau hobi menjadi pekerjaan adalah hal yang menyenangkan? Kapan lagi, kan, melakukan sesuatu yang disukai dan mendapat bayaran?

Namun, makin ke sini saya menyadari kebenaran di balik ucapannya.

Dari dulu saya suka banget nulis. Bahkan, cita-cita saya adalah bisa hidup dari menulis dan segala aktivitas turunannya. Cita-cita itu terkabul. Sejak awal kerja kantoran, resign, memutuskan jadi pekerja lepas, hidup saya ya dibiayai dari aktivitas nulis dan yang berhubungan dengan itu. Sampai sekarang.

Nah, masalahnya, setelah nulis menjadi pekerjaan utama, saya jadi kehilangan gairah untuk menulis sebagai cara bersenang-senang. Kini bawaanya tiap nulis atau ngadep komputer ya target, target, target, deadline, deadline, deadline.

Capek, bos.

Mungkin ini adalah alasan utama saya hingga akhirnya pelan-pelan berhenti ngeblog. Saya terlalu disibukkan dengan pekerjaan. Otak dan energi kreatif sudah kesedot semua. Makanya postingan-postingan saya pun banyaknya job juga haha. Akhirnya saya jadi paham kenapa dulu kawan saya yang jurnalis itu jarang ngeblog. Mungkin alasannya juga sama.

Wong tiap hari sudah nulis berita terus, pasti otaknya capek. Entahlah ini hanya alasan atau memang kebenarannya. Namun, hal ini yang benar-benar saya rasakan.

Apakah yang Akan Saya Bagi Berguna?

Apakah yang saya bagi akan berguna?

Alasan kedua masih lanjutan dari alasan pertama. Pekenalan lebih jauh dengan dunia blog dan aktivitas sebagai content writer maupun editor website membuat saya sedikit banyak paham soal SEO, algoritma, dan teman-temannya.

Saya pun jadi memandang blog sebagai sesuatu yang berbeda. Dulu, saat belum tahu apa-apa, tujuan saya bikin blog dan nulis ya pure untuk curhat atau mencatat keseharian. Saya tidak pernah berpikir bahwa artikel harus masuk halaman pertama pencarian atau artikel harus berguna bagi pembaca.

Namun, kini saya selalu memikirkan banyak hal. Duh, kalau nulis ini kira-kira bermanfaat buat pembaca enggak, ya? Kalau saya membahas ini, kira-kira bakal dicari banyak orang dan mendatangkan traffic enggak, ya? Topic ini kira-kira bisa menjadi pillar content enggak, ya? Serta sederet pertanyaan lainnya yang serupa.

Pertanyaan demi pertanyaan tersebut akhirnya membuat pijar saya redup. Saya langsung menjustifikasi bahwa ah ini enggak penting atau enggak perlu dituliskan. Cukup disimpan dalam ingatan saja, sambil sesekali posting di feeds Instagram.

Padahal harusnya tidak seperti itu, kan, ya? Nulis yang tinggal nulis saja. Belajar untuk tidak memikirkan angka dan algoritma. Kembali percaya bahwa sebuah tulisan pasti akan menemukan pembacanya sendiri.

Sereceh apa pun tulisan kita, mungkin bisa jadi sesuatu yang berguna untuk orang lain. Minimal bisa membuat mereka tersenyum atau merenung. Tidak harus muluk-muluk bercita-cita membuat perubahan.

Semacam Epilog

Saat saya membaca cuitan di Twitter (masih malas bilang nge-X) bahwa KEB mengadakan tantangan menulis seminggu penuh, saya langsung tertantang. Dengan penuh percaya diri saya memutuskan untuk ikut serta.

Padahal seperti yang sudah saya bilang di Instagram stories, bahwa sejatinya saya sedang mencari masalah. Bulan-bulan ini load pekerjaan sedang banyak dan rasanya tidak selesai-selesai. Di balik rasa senang akan pekerjaan yang dimiliki, tentu saja ada rasa lelah dalam membagi waktu. Jika saya harus menambah kegiatan harian dengan menulis 1000 kata ini sama saya menambah beban dan masalah.

Namun berhubung saya suka mencobai diri sendiri, makanya saya ikutan. Saya pikir ini akan menjadi momentum yang tepat untuk kembali ngeblog dengan tujuan bersenang-senang. Ringan dan tanpa beban.

Anggap saja ini sebagai pemanasan sebelum nantinya kembali lagi ngeblog dengan rutin. Walau tidak ada yang membaca, tapi setidaknya catatan-catatan itu tidak hanya ada di kepala, tetapi bisa mengabadi dalam postingan.

Doakan saya ya. Semoga konsisten menulis seminggu ini. 7 hari, 7 postingan, dengan total minimal 7000 kata. Pasti Bisa!

Kaki Merapi, 19 Oktober 2023
Ditulis jam 21.30 dan baru selesai jam 23.21 karena disambi scroll sosmed. Aslinya sudah nyaris menyerah saja di hari pertama. Namun berhubung sudah bikin stories rasanya malu jika harus menarik kembali ucapan.

Elisabeth Murni
Elisabeth Murni

Ibu Renjana | Buruh partikelir paruh waktu | Sesekali bepergian dan bertualang.

Articles: 247

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *