Tentang Pak Guru yang Gemar Berkisah

Jika harus menyebutkan nama pendidik yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidup saya, tentulah nama Pak Suratman akan saya sebut yang pertama. Beliau bukanlah salah satu doktor yang saya jumpai di kampus, guru Matematika di SMA, ataupun guru Bahasa Inggris di SMP. Namun, Pak Suratman adalah guru yang mengenalkan saya pada banyak hal saat duduk di bangku SD. Ya, Pak Suratman adalah guru saya saat kelas 1 SD.

Beliau adalah guru yang sangat baik. Sosok yang sangat sabar sekaligus jenaka. Beliau mengajar saya dan teman-teman dengan penuh kasih. Dengan sabar mengajari anak-anak kecil itu memegang pensil, menulis, mengeja, hingga menghitung angka menggunakan batang lidi. Cara mengajarnya sangat menyenangkan. Saya selalu merasa seperti sedang diajak bermain dan bersenang-senang. Tak heran jika Pak Suratman menjadi guru favorit saya dan teman-teman.

Mungkin banyak guru yang memiliki cara mengajar serupa, tetapi Pak Suratman memiliki pembeda. Beliau gemar sekali bercerita dan mendongeng. Baik cerita tentang negeri-negeri jauh, cerita tentang dongeng masa lalu, atau cerita mengenai masa kecilnya dahulu. Tiap beliau berkisah, kami seolah tersihir dan masuk dalam dunia imajinasi.

Jika kelas lain tiap bel berbunyi selalu senang karena pertanda segera pulang, kami justru bersedih. Sebab, mau tidak mau cerita yang sedang seru harus segera ditamatkan. Terkadang, Pak Suratman berjanji untuk menyelesaikan cerita esok hari. Oleh karena itu, saat pagi tiba kami sudah menunggunya di depan gerbang sekolah. Begitu beliau tiba, kami berlomba menjabat tangan sembari mengingatkan tentang kisah yang belum diselesaikan.

Saat naik ke kelas dua, Pak Suratman tidak lagi mengajar kelas saya. Meski begitu, sesekali beliau masuk ke kelas untuk menjadi guru pengganti. Dan lagi-lagi kami selalu menagih dongengnya di akhir pelajaran. Sepertinya dongeng-dongeng dari Pak Suratman itulah yang turut berperan menentukan alur hidup saya. Pada akhirnya, saya juga hidup dari cerita dan berkelindan dengan kata-kata.

Tatkala Renjana duduk di bangku kelas 2 SD, rupanya dia juga mendapatkan guru yang senang bercerita. Tiap pulang sekolah dia selalu antusias menceritakan ulang kisah-kisah dari gurunya. Kalimatnya selalu dimulai seperti ini “Jadi ibuk, tadi di sekolah pak guru cerita bla bla bla“. Sesekali dia akan bercerita sambil terbahak meski saya terkadang tidak paham dengan apa yang diceritakannya. Namun, dari hal tersebut, saya yakin bahwa pak guru ini adalah sosok yang dicintai anak-anak.

Suatu hari dia pulang sekolah dan berkata “Ibuk, kata pak guru itu anak-anak tidak boleh banyak main HP. Jadi, aku mau uninstall roblox-ku yang ada di HP ibuk“. Wow, saat itu saya benar-benar terkejut. Saya penasaran, kira-kira kisah atau kalimat apa yang disampaikan oleh gurunya sehingga dia begitu patuh.

Tak hanya sekali, dalam beberapa hal dia sangat mendengarkan gurunya. Apa yang disarankan atau dikatakan gurunya pasti akan dia ikuti. Termasuk soal merengek untuk segera potong rambut sebab sudah diingatkan pak guru berkali-kali. Sementara itu, mamaknya ngotot pengen dia rambut gondrong seperti saat duduk di TK.

Pada akhirnya saya yang mengalah. Berhubung aturan sekolah melarang anak lelaki berambut gondong, dengan berat hati saya membawanya ke barbershop. Dia pun pulang sambil cengar-cengir gembira karena merasa rambutnya sudah rapi sesuai dengan arahan gurunya.

Dalam berbagai kesempatan, dia kerap mengulang apa yang dikisahkan gurunya. Tentu saja semua dimulai dengan kalimat andalan “Kata pak guru…“. Tak heran jika saya akhirnya merasa mengenal bapak gurunya meski jarang berinteraksi. Mungkin hal ini jugalah yang dirasakan oleh orangtua saya dulu saat saya selalu bercerita soal Pak Suratman.

Hari ini tahun ajaran 2022/2023 sudah berakhir. Rapor sudah dibagikan. Kebersamaan Bre dengan wali kelasnya sudah berakhir. Tadi pagi, saya sempat mengintip surat yang dia tulis untuk gurunya. Selain mengucapkan terima kasih, dia juga masih menagih janji soal cerita hantu-hantu hahaha. Jadi, Pak Guru, tahun ajaran depan masih menjadi wali kelas anak-anak di kelas 3 dan melanjutkan kisah-kisah yang belum selesai, kan? #uhuk

Terima kasih, Pak Guru, sudah memberikan kenangan yang indah untuk Bre dan teman-temannya. Terima kasih sudah menjadi sosok yang bisa menjadi panutan dan diteladani anak-anak. Terima kasih telah mendidik dan menyayangi anak-anak dengan sepenuh hati sehingga menghasilkan buah-buah yang baik.

Jika kelak dalam perjalanan pengabdian menjadi pendidik terasa terjal, semoga ingatan akan tawa dan senyum anak-anak di tahun pertama Bapak mengajar bisa menjadi pelipur lara. Bahwa Bapak selalu menjadi sosok yang begitu dikagumi, dihormati, dan disayangi anak-anak.

Terus menjadi pencerita, ya, Pak. Mungkin Bapak tak tahu dan tak menyadari, bisa jadi salah satu cerita tersebut mampu menyentuh hati dan mengubah hidup anak-anak 🙂

Salam hormat,
Ibu Renjana

Elisabeth Murni
Elisabeth Murni

Ibu Renjana | Buruh partikelir paruh waktu | Sesekali bepergian dan bertualang.

Articles: 247

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *