Melepas Tukik di Pantai Goa Cemara

“Nah, di sini ini biasanya tempat penyu bertelur,” kata Bang Asro sambil menunjukkan beberapa sudut pantai yang bertabur batuan granit. Beberapa kali dia terlihat berhenti, kemudian mengeruk pasir sambil mengamati sesuatu.

Saya dan Titis mengikutinya sambil tercepuk-cepuk di belakang. Perjalanan menyusuri bibir pantai itu kemudian berbelok masuk ke balik semak dan pepohonan hingga tiba di sebuah tempat bertuliskan “Welcome to Kepayang Dive Center”. Di tempat itu terdapat beberapa bangunan, mulai dari penginapan, restoran, dive center, hingga tempat penangkaran penyu.

Sayangnya saat itu saya tidak sempat merilis penyu di pantai. Yang saya lakukan hanya duduk di resto sembari melihat mercusuar Pulau Lengkuas di kejauhan. Sesekali snorkeling, atau mengikuti Bang Asro memberi makan penyu di penangakaran sembari mendengar kisah-kisahnya.

Ternyata, 8 tahun kemudian saya bisa merilis tukik. Hanya saja bukan di Pulau Kepayang, Belitung, melainkan di Pantai Goa Cemara, Bantul.

***

Bermula dari ajakan Mbak Prima untuk jalan-jalan ke Bantul bersama kawan-kawan blogger lain, saya pun mengiyakannya. Setelah nyaris satu tahun #dirumahsaja, sepertinya saya butuh piknik sejenak.

Walau awalnya sempat ragu akibat pandemi yang tak kunjung usai justru makin meningkat, saya mengiyakan ajakan tersebut. Tentu saja perjalanan kali ini bakal beda dengan piknik-piknik biasanya, sebab ada beberapa protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Salah satunya adalah selalu memakai masker.

Setelah mengunjungi berbagai tempat, tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Goa Cemara. Sepintas dengar nama pantai yang satu ini memang cukup unik. Ini pantai apa goa?  Goa di pantai? Lantas, goanya mana?

Saat pertama kali menjejakkan kaki di pantai ini sekitar 10 tahun yang lalu, saya juga menanyakan hal serupa. Kala itu pantai ini baru saja dibuka dan akan dikembangkan untuk wisata. Setelah berbincang dengan pengelola akhirnya saya tahu bahwa penyematan nama Goa Cemara didasarkan pada kondisi pantai ini.

Di pantai yang masih satu garis dengan Pantai Parangtritis ini terdapat banyak pohon cemara laut (Casuarina aquisetifolia). Pohon-pohon tersebut tumbuh berdekatan sehingga membentuk lorong-lorong menyerupai goa. Karena itu tempat tersebut dinamakan Pantai Goa Cemara. Saat ini pohon-pohon tersebut telah tinggi sehingga sudah tidak terlihat lagi “goa”nya.

Hamparan hutan cemara yang tumbuh di pantai ini tentu tidak tumbuh begitu saja. Pohon-pohon ini memang dibudidayakan oleh warga. Dulu, saat pertama ditanam tujuannya adalah sebagai wind breaker. Pohon ini diharapkan dapat menahan tiupan angin laut yang mengandung asam.

Berhubung tingkat asam yang tinggi dapat mengganggu sistem perakaran, tanaman para petani pesisir pun menjadi terhambat pertumbuhannya. Untuk alasan itulah pohon cemara ini ditanam. Namun, bertahun-tahun kemudian, hamparan cemara justru menjadi nilai lebih untuk menarik kunjungan wisatawan.

***

Sepuluh tahun berlalu, ternyata Pantai Goa Cemara sudah bersolek dan berubah rupa. Dari yang tadinya semak perdu kini sudah menjelma menjadi tempat wisata yang cantik. Tempat ini kini memiliki jalan lebar, pasar tradisional, jajaran warung makan dan oleh-oleh, beberapa pendopo luas, serta sarana penunjang lainnya.

Saat ngobrol dengan salah satu sesepuh pengelola pantai ini, Bapak Suwandi, beliau berujar bahwa banyak keluarga yang membawa anak-anaknya ke sini. Banyak di antara mereka yang membawa sepeda, kemudian membiarkan anak-anaknya bersepeda dengan riang di bawah pokok cemara. Hmmm, ide yang menarik juga nih.

Selama ini kekhawatiran yang terjadi saat membawa anak bermain ke pantai (khususnya pantai selatan) adalah anak akan bermain dengan ombaknya yang ganas. Namun, di tempat ini ada banyak hal yang bisa dilakukan anak-anak. Mereka bisa berlarian sepuasnya tanpa orang tua khawatir anaknya berlari ke laut. Jika ingin mandi-mandi, di kawasan ini juga ada kolam renang bersih yang bisa dipakai anak-anak.

Aih, jadi pengen ajakin Renjana main ke sini kapan-kapan lah.

Merilis Tukik Bersama Kelompok Konservasi Penyu Mino Raharjo

Satu hal menarik tentang Pantai Goa Cemara yang baru saya ketahui pada kunjungan kemarin adalah adanya kelompok konservasi penyu di tempat ini. Ya, tak banyak orang tahu bahwa kawasan pantai ini merupakan zona pendaratan migrasi penyu hijau (Chelonia mydas). Tekstur pasir yang lebih tebal, stabil, serta tidak bercampur dengan batuan karang maupun tanah membuat penyu hijau gemar bertelur di tempat ini.

Bergerak dari keprihatinan terhadap populasi penyu hijau, akhirnya warga sekitar membentuk Kelompok Konservasi Penyu Mino Raharjo. Tujuan mereka adalah untuk mengawasi perkembangan penyu hijau dan mengamankan telur penyu dari ancaman perburuan.

Saat musim penyu mendarat, mereka akan melakukan patroli guna megambil telur penyu dan memindahkannya ke tempat penangkaran. Nantinya telur tersebut akan ditetaskan. Setelah dirasa cukup umur, tukik-tukik tersebut akan dilepas kembali ke habitatnya di laut. Biasanya acara release tukik ini terbuka untuk masyarakat umum. Saat saya tiba di sana kemarin, ada 5 tukik yang siap untuk dilepas.

“Ini sedang bukan musim tukik bertelur, jadi tidak terlalu banyak anak tukik yang ada di penangkaran,” kata Mas Fajar menjelaskan.

“Biasanya penyu akan mendarat pada bulan Mei-September. Di bulan-bulan itulah kami banyak merilis tukik ke laut,” lanjutnya.

Sore itu, kami pun beramai-ramai melepas tukik-tukik itu ke laut. Saat hendak meletakkan tukik ke pasir saya mendadak ingat ucapan Bang Asro. Tidak semua tukik bisa hidup di laut, banyak di antara mereka yang mati di perjalanan. Untuk itu tak ada salahnya memberi semangat pada tukik-tukik yang hendak dilepas.

“Semangat dan selamat berjuang di lautan lepas ya, kik! Kamu pasti bisa bertahan,” kata saya pada si tukik sebelum saya lepas. Tukik kecil itu pun menggerak-gerakkan kakinya.

Perlahan dia saya letakkan di pasir. Dengan enggan dia menapak. Melangkah pelan, bergerak perlahan. Mungkin butuh penyesuaian. Selanjutnya dia mulai bergerak dengan cepat. Apalagi saat mendengar ombak mendekat.

“Selamat datang di rahim ibu samudra,” mungkin seperti itu kata lautan. Ombak pun menggulung tukik-tukik kecil itu. Mereka menghilang, menyatu dalam semestanya. Semoga kalian sehat dan tumbuh menjadi penyu dewasa yang tangguh. Kelak, kembali lagi ke pantai tempat kalian bermula dengan membawa telur-telur baru yang akan menjadi penerus jejak kehidupan.

Seusai merilis tukik, Mas Fajar sempat bercerita bahwa salah satu ancaman terbesar bagi penyu adalah sampah. Beberapa kali mereka menemukan penyu yang terjerat sampah, atau penyu mati yang isinya adalah sampah.

“Jangan buang sampah di sungai, karena itu akan bermuara ke laut dan merusak ekosistem yang ada,” katanya. Sebuah petuah yang terdengar klise namun sarat kebenaran. Sampahmu tanggung jawabmu. Kelola dengan baik dan bijak.

Perjalanan saya di Pantai Goa Cemara hari itu terbilang singkat. Namun dari yang singkat tersebut justru banyak hal baru yang saya pelajari. Terima kasih, terima kasih. Kelak, saya pasti akan kembali lagi ke sini dan melepasliarkan lagi tukik-tukik kecil itu.

Berpose di Pantai Goa Cemara

Travellers note:

  • Pantai Goa Cemara terletak di Patihan, Gadingsari, Sanden, Kabupaten Bantul, DIY, sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota yogyakarta
  • Bagi kawan-kawan yang tertarik untuk turut merilis tukik bisa datang di bulan Mei-September atau kontak pengelola lebih dulu
  • Untuk mendapatkan info terkini dan terlengkap tentang Pantai Goa Cemara bisa mengakses situs GoaCemara.Com atau Instagram dan Facebook
  • Di masa new normal ini Pantai Goa Cemara sudah dibuka untuk wisatawan dengan protokol kesehatan, salah satunya adalah kewajiban untuk terus memakai masker dan menghindari kerumunan.

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

7 Responses

  1. Aji Sukma says:

    “Semangat dan selamat berjuang di lautan lepas ya, kik!

    Aku curiga nama panjangnya Kiki Fatmala. 😭😭😭

  2. Dari dulu pengen ke sini buat meliput dan ikutan melepas tukik, tapi kok gak ada waktu ya hahahahah. Kayaknya informasi melepas tukik ini kurang familiar di banyak orang, padahal kalau ada agenda misalkan digaungkan dengan kencang bakal jadi opsi wisatawan lebih banyak.

    • Tiap Mei sampai September, mas. Saat penyu pada mampir buat bertelur. Pihak pengelola selalu menginfokan di laman FB mereka kok. Aku juga baru tahu kemarin. Nah yang jadi masalah, laman FB mereka nggak banyak dikenal orang hehe.

  3. Piknik akhir tahun yang menarik yah Kak. Semoga saya kelak berkesempatan untuk melepas tukik ke lautan. Sukses dan sehat selalu Kak Sasha. Salam dari Flores.

  4. Penyu jenis apa ya mbak warnanya hitam semua begitu

  5. Aku juga belum pernah punya pengalaman merilis tukik. Di Jawa Timur, dulu kupikir hanya ada di Sukamade, TN Meru Betiri, Banyuwangi. Ternyata ada juga di salah satu pantai di Trenggalek yang punya penangkaran penyu.

    Pasti ada rasa haru ya begitu melepas tukik ke lautan. Aku kadang gak tega juga karena pasti banyak marabahaya mengintai.

Sharing yuk!