Nyanyian Pengharapan

Nyanyian Pengharapan sebuah lagu dari Liora Project

“Mbak, minta lirik, dong!” pinta sepupu saya sekitar setengah tahun yang lalu. Sebenarnya dia meminta itu sudah sejak lama, tetapi saya selalu terlupa. Hingga akhirnya dia mengingatkan lagi.

“Uhmmm, bentar sek ya. Aku kemarin abis nulis sesuatu sih. Tapi ntar deh aku lihat lagi, ya!” janji saya. Dan kali ini saya tak lagi mengumbar janji palsu. Hanya berjarak beberapa hari saya sudah mengirimkan lirik yang dia minta.

“Kayak gini gimana?” tanya saya.

“Bagus kok. Ntar ya, ku otak-atik sama anak-anak dulu”. Yang dia maksud anak-anak tentu saja kawan bermusiknya.

Dulu adik saya dan kawan-kawannya memiliki band beraliran jazz dengan nama SNF. Mereka bahkan sempat tampil beberapa kali di gelaran Jazz Goes to Campus dan Jazz Atas Awan.

Bahkan, mereka sempat membuat mini album bertajuk “Langkah Awal” yang laku lumayan banyak untuk ukuran band indie sebuah kota kecil. Ada lagu saya juga yang turut masuk dalam album tersebut.

Sayangnya, setelah lulus kuliah mereka pun sibuk dengan dunia masing-masing. Lajur hidup membawa mereka melangkah ke arah yang berbeda. Hanya tinggal beberapa orang yang masih tinggal di kota yang sama dan masih satu visi. Mereka pun membuat project baru bernama Liora.

Beberapa hari kemudian saya mendapatkan pesan suara di WA. Seorang pria bersuara pas-pasan menyanyikan lagu dengan iringan musik sederhana. Rupanya itu lagu saja yang masih mentah.

“Piye menurutmu, mbak?” tanyanya.

“Apik kok,” jawab saya. Karena memang jadi bagus, terlepas dari suara adik saya yang tak terlalu merdu hahaha.

“Ini nunggu ngulik aransemennya dulu, abis itu rekaman,”

“Siapa yang nyanyi?”

“Vokalisnya Liora lah”

“Waaah, asyik. Mesti keren,” jawab saya sambil tak sabar menunggu.

Beberapa minggu kemudian saya mendapatkan kiriman preview lagu yang baru selesai direkam. Aisssh, senang senang senang. Rasanya tak sabar mendengar lagu ini dirilis.

Saat saya bertemu dengan anak-anak di Wonosobo mereka bilang bahwa kemungkinan lagu akan rilis bulan Mei atau Juni (duh lupa). Namun karena lain dan beberapa hal akhirnya diundur.

“Artwork-nya belum siap, mbak,” kata Niel saat saya tanya sampai sejauh mana progress-nya.

Hingga akhirnya tepat pada tanggal 7 September 2020 lagu berjudul Nyanyian Pengharapan tersebut dirilis. Awalnya saya berpikir hanya rilis format audio. Jika video pun paling video lirik. Ternyata mereka melakukan jauh lebih dari itu. Mereka bikin video musik yang kece banget.

Saat pertama lihat di Youtube daku langsung terkesima dan berkaca-kaca. Iya, mamak yang satu ini memang selemah itu. Gampang mewek. Ini kenapa jadi bagus gini sih? Mana color grading-nya mantap banget. Udah kaya Mv-Mv beneran deh (lah, emang ini bukan beneran?). Huhuhuhu, daku terharu.

Di Balik Nyanyian Pengharapan

Saat lagu itu hendak rilis saya sempat dichat oleh adik saya tentang kisah dibalik lagu tersebut. Sebenarnya saya pernah menuliskannya di postingan ini I Know Who Hold My Hands sih. Dan Nyanyian Pengharapan merupakan hasil permenungan saya atas hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini.

Kalau versi yang ditulis di Youtube sih seperti ini:

Berharap untuk lebih baik itu pasti. Namun kenyataannya realita tidak selalu sesuai keinginan. Pandemi menghantui hidup kita. Aspek aspek kehidupan satu persatu menjadi terpengaruh dan berjalan tidak semestinya. Ketakutan dan kecemasan mencekam kita semua. Meski badai menghadang tapi kita jangan sampai kehilangan arah. Ini adalah nada untuk mengingatkan bahwa pelita masa depan masih menyala.

(verse 1)
Apakah kau merasa takut, jika iya ku juga rasakan yang sama
Apakah kau merasa khawatir, jika iya ku juga merasa serupa

(verse 2)
Semua yang kulihat, ciutkan nyali, semua yang kudengar getarkan hati
Kita manusia, sama-sama punya rasa takut cemas itu biasa

(reff)
Aku akan terus percaya, aku akan terus berjuang
aku akan tetap melangkah dan nyanyikan pengharapan
Pelan-pelan terus berjalan, kabut nanti juga menghilang
Lewati smua yang terjadi dan nyanyikan pengharapan

(bridge)
Tapi ku tak mau terperangkap, dalam duka yang mendekap
Tak selamanya duka ada, suka pasti datang tepat pada waktunya.

Saya menulis lirik ini untuk menyemangati diri saya sendiri. Dari dulu saya kerap menulis “Pelan-pelan terus jalan, kabut nanti juga menghilang”. Dan kali ini saya memasukkan kalimat andalan saya dalam lirik lagu. Biar kalau lagi galau bisa nyanyi-nyayi, siapa tahu setelah itu bisa semangat lagi.

Setelah lagu tersebut rilis, ternyata banyak orang yang merasa terberkati dengan part tersebut. Huhuhuhu, lagi-lagi mamak terharu. Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mau mendengarkan musik ini. Semoga lagi ini menjadi Nyanyian Pengharapan kita bersama.

Oya, sekadar informasi. Saat ini selain bisa dilihat di Youtube, Nyanyian Pengharapan juga bisa didengarkan melalui kanal musik digital seperti Spotify, Joox, Deezer, iTunes, dan banyak lainnya. Makanya beberapa waktu lalu saya sempat norak muter lagu sendiri berkali-kali di Spotify hahaha.

Semoga teman-teman suka ya! God bless you all!

Kaki Merapi, 1 September 2020
Ditulis dini hari sesuai menyelesaikan deadline sambil dengerin Swaragama.

Yippieee, akhirnya setelah 3 bulan off hari ini blog ada postingan lagi haha.

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

4 Responses

  1. dwisusantii says:

    Mbak Sha kalau pas pingin banget, kepikiran banget sesuatu dan pingin ditulis langsyung tulis aja mbak. Maneman kalau menguap dan hilang.
    Itu sajak, eh liriknya ngena banget yaa, mak jleb jleb bahasanya. Haha.

    Berarti besok bisa dapet orderan nulis lirik juga ta?

    • Ahaha iya sih. Kadang udah punya ide buat ditulis, tapi cuma bertahan dirangkai di otak aja, gak langsung dituangin. Pada akhirnya beberapa hari kemudian menguap, hilang tak berbekas hehe. Padahal kalau mau corat-coret bentar bikin draft saat ada ide bisa banyak-banyak posting lah.

      Btw terima kasih Mbak Dwi. Aku mau jual jasa penulisan caption aja deh hahahaha.

  2. Olive B says:

    asik – asik ya lagunya,
    baca ini jadi buka – buka kanalnya Liora

Sharing yuk!