September, Oktober. Dan Lalu?

September diawali dengan sahabat yang berpulang dengan cara yang begitu mengejutkan. September diawali dengan duka dan kehilangan yang sangat mendalam. September di awali dengan tangisan kesedihan. Lantas dilanjutkan dengan hari-hari yang tak lagi sama. Semua berubah, semua berbeda, sedikit limbung.

Tapi apakah semua akan berhenti sampai disini?
Sedangkan hari-hari masih menanti untuk terus dijalani dan mimpi-mimpi menunggu untuk terus dihidupi.

Bukankah memang orang-orang ditakdirkan untuk datang dan pergi dalam hidup? Mungkin saat ini kita bisa berbincang sambil menggenggam tangan sahabat-sahabat kita dengan erat. Namun apa yang akan terjadi esok, lusa, bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun ke depan? Kita tak akan pernah tahu. Tak pernah ada yang benar-benar abadi untuk kita miliki.

Bersyukur masih diijinkan Tuhan untuk merasakan setiap emosi itu. Merasakan kesedihan, kehilangan, dan duka yang mendalam. Karena tanpa merasakan itu saya tak akan pernah bisa menyadari betapa berharganya kalian, orang-orang yang boleh ada di sisi saya saat ini. Orang-orang yang boleh saya dengar suaranya, saya genggam jemarinya, saya tepuk pundaknya, saya peluk kala saya gundah, atau sekadar saya cereweti kala saya marah. Bahkan saya juga bersyukur untuk kalian yang jauh di sana, yang hanya bisa berbagi kabar lewat pesan-pesan pendek maupun cuitan di lini masa.

Bersyukur untuk tiap pertemuan, bersyukur untuk tiap perpisahan, bersyukur untuk tiap kebersamaan. Sebelum pada akhirnya nanti semua akan melangkah menjauh di lajur hidup masing-masing, saya hanya ingin bilang satu hal. Sungguh, saya bersyukur memiliki kalian semua dalam paruh hidup saya.

September yang katanya ceria telah usai. Masih ada Oktober, November, Desember, dan lantas menjejejak lagi di Januari. Saya tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Yang pasti jadilah kuat seperti air.

Mendadak ingat pesan mamak dulu, Jejeg Sash! Ya, berdirilah teguh ditengah semua rintangan dan duka yang menghadang. Jangan dulu jatuh, karena langkahmu masih jauh. Masih panjang perjalanan yang harus kau tempuh!

cewek di pantai
semangART!

Goodbye September and Welcome October!

Oya, mengutip cuitan Mas Gugun7

Orang merdeka bisa berkarya tanpa senjata. Selamat datang Oktober. Maju Tak Gentar!

Default image
Elisabeth Murni

Ibu Renjana | Buruh partikelir paruh waktu | Sesekali bepergian dan bertualang.

Articles: 243

9 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

  1. kita tak pernah tahu siapa yang akan datang, pergi atau bahkan kembali lagi dan bertemu, pun kapan kaki ini akan berhenti menjejak. jadi teruslah melangkah… karena Tuhan nggak memberi batas di utara, selatan, timur dan barat.

    Sepakat. Tuhan tidak memberi batas di utara, selatan, timur, dan barat. Sukak dengan kalimat ini. Terimakasih, terimakasih. Iya, saya dan kita harus terus melangkah 🙂