Panggilan #BAKTI dari Bima, Sumbawa

Pesan itu datang pada suatu sore di awal pekan yang mendung, saat saya usai menyiram deretan tanaman di halaman depan. Kawan lama yang menanyakan kabar, lantas memberikan undangan untuk saya bergabung dengan timnya dan berkunjung ke Bima. Sontak saya memekik riang. Setelah 2 hari sebelumnya saya menolak tawaran ke Batu dan Bromo, tiba-tiba ada tawaran lain menuju Bima.

Bagi saya yang terobse si dengan tempat-tempat berawalan B dan berambisi untuk memperbanyak koleksi #Btrip, tentu saja undangan ini sayang untuk dilewatkan. Saya ingin bergegas mengiyakan, tapi saya ingat, saya sudah bukan perempuan lajang yang bisa mengambil keputusan sesuka hati. Sekarang ada anak dan suami yang harus dimintai pendapat.

“Saya bilang ke suami dulu, ya” jawab saya pada pengirim pesan.

Malam hari, saat Mas Chandra pulang kantor, saya pun menyampaikan undangan itu. Setelah menanyakan beberapa hal dan berdiskusi tentang  “nasib” Renjana saat saya pergi nanti, saya pun mendapat restu.

Senang? Tentu saja. Meski begitu terselip sedikit galau, maklum, saya bakal pergi tanpa Renjana untuk pertama kalinya. Selama ini, hingga dia hampir berusia 4 tahun, saya selalu membawanya bepergian kemana-mana, termasuk liputan yang mblusuk-mblusuk. Tapi untuk kali ini, saya akan meninggalkan dia di rumah bersama ayahnya.

Jadi, kenapa saya menolak tawaran Bromo dan Batu (padahal sama-sama berawalan B dan lebih dekat) serta memilih pergi ke Bima (yang lebih jauh) dan tega ninggalin Renjana di rumah? Tentu saja saya memiliki alasan yang kuat untuk itu, Ferguso. Karena besok saya akan melakukan tugas negara #halah #pret ahahahaha.

Kunjungan saya ke Bima besok terkait dengan program Aksi BAKTI Kementerian Informasi dan Komunikasi. Sebelum teman-teman bertanya-tanya apakah itu Program BAKTI Kominfo, saya akan dengan senang hati menjelaskannya.

BAKTI, Wujudkan Akses Informasi Merata di Nusantara

radio-tower-2817422_960_720

Salah satu program pemerintah saat ini yang sesuai dengan Nawa Cita adalah adanya komitmen untuk membangun Indonesia dari pinggiran dan pemerataan akses. Satu hal penting yang menjadi PR pemerintah adalah melakukan pemerataan akses informasi.

Seperti yang sudah menjadi rahasia umum, akses komunikasi dan informasi bagi daerah-daerah di luar jawa, terlebih di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) sangatlah minim, bahkan bisa dibilang buruk. Jika kita yang tinggal di Jawa terkadang mengeluh saat koneksi sinyal tidak stabil sehingga harus buffering lama saat membuka Youtube, saudara-saudara di luar Jawa lebih menyedihkan lagi. Jangankan sinyal untuk membuka Youtube, sinyal untuk menelepon atau mengirim sms saja antara ada dan tiada.

Rasanya sangat tidak adil ketika kita yang tinggal di kota-kota besar sudah mulai menyiapkan diri untuk persaingan di era industri 4.0, saudara kita di daerah 3T belum mengenal internet. Untuk itu, melalui  Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), Kementerian Kominfo berusaha untuk mengakselerasi  ketersediaan akses informasi dan komunikasi di seluruh sudut negeri.

Visi dari BAKTI adalah untuk menjembatani kesenjangan digital guna mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik. Sedangkan misinya adalah memberikan layanan Universal Service Obligation (USO)  yang berkualitas dan tepat sasaran guna mengatasi kesenjangan digital yang ada.

Guna mewujudkan hal tersebut, ada beberapa hal strategis yang dilakukan BAKTI yaitu menyediakan akses internet, pembangunan BTS, dan Backbone Fiber Optik Palapa Ring di desa-desa yang belum terjangkau sinyal telekomunikasi. BAKTI Kominfo sendiri menargetkan ada 5000 titik di kawasan 3T serta perbatasan (lastmile) yang terjangkau akses telekomunikasi. Dengan pembangunan ini diharapkan bisa terwujud Indonesia Merdeka Sinyal 2020.

Mengapa Bima?

Kunjungan saya ke Bima tentu saja terkait dengan hal ini. Bima merupakan kota terbesar di Pulau Sumbawa dan biasa menjadi pintu gerbang bagi para pejalan yang hendak menjelajah Sumbawa. Daerah ini sering dijuluki sebagai kota dengan dua matahari karena matahari yang bersinar terik sepanjang musim. Pada bulan Oktober, suhu bisa mencapai 38 derajat sehingga pada tahun 2014 kota ini ditetapkan sebagai kota terpanas di Indonesia.

Daerah ini memiliki potensi wisata yang sangat besar. Salah satunya yang tersohor adalah Pantai Lariti yang dikenal sebagai pantai terbelah. Sebab jika laut sedang surut, akan tercipta jalan pasir yang menghubungkan pantai dengan sebuah pulau kecil di tengah laut. Sayangnya pantai ini belum terlalu populer di bandingkan pantai-pantai di Bali maupun Lombok.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi pariwisata yang kurang berkembang ini, salah satunya tentu saja akibat akses informasi yang kurang lancar. Bima termasuk wilayah 3T yang memiliki banyak blankspot alias belum memperoleh sinyal. Karena itu Bima menjadi sasaran pembangunan Base Transceiver Station (BTS) yang dilakukan BAKTI Kominfo. Dengan pembangunan BTS, diharapkan arus telekomunikasi menjadi lancar dan mampu mempercepat proses pembangunan daerah dari segala lini.

Mulai tanggal 20 hingga 23 November, saya bersama beberapa rekan media dan Kominfo akan mengunjungi Bima untuk melihat lokasi pembangunan BTS dan meliput kegiatan disana. Semoga kedatangan saya dan tim bisa memberikan kontribusi untuk menyebarkan kabar baik dari pelosok negeri. Sebab Indonesia bukan hanya Jawa.

Untuk itu mulai hari ini hingga beberapa pekan ke depan saya akan menyajikan catatan mengenai perjalanan saya ke Bima. Saya agak deg-degan nih, soalnya ini perjalanan pertama saya ninggalin bocah di rumah hehehe. Doakan semua lancar ya.

Tabik

Default image
Elisabeth Murni

Ibu Renjana | Buruh partikelir paruh waktu | Sesekali bepergian dan bertualang.

Articles: 243

40 Comments

  1. waaa… selamat bertugas mbak! nikmati perjalanan, sebab kalau udah diizinkan suami mah, insya Allah lancar urusan tugas walau ninggalin anak sebentar, heheh *pengalaman

  2. Menjembatani kesenjangan digital.. Wah, keren mba tugasnya. Mau dong kampung sy didatangin jg. Haha. Itu knp terobsesi sm tempat awalan B mba? Hmmm hmm.. Ad moment spesial kyknya ya. Ak blm prnh ke bima sih, kelombok aj g pernah. He

  3. Hebat mba….dapat kesempatan emas. Semoga dengan program BAKTI ini kesenjangan antar pulau bisa terjembatani yaa. Maju satu, maju semua…untuk indonesia.

  4. Waah ke Bima. Salah satu tempat yang ingin saya kunjungi. Semoga perjalanan lancar, semua – termasuk Renjana aman-aman saja ditinggal mamaknya, dan sehat semua, ya Mbak.

  5. Wah lagi ke Bima ya mbak? Moga2 lancar ya kegiatannya di sana. Wah 2020 ya targetnya? Moga Indonesia mampu yaa. Di daerah2 sinyal jd lancar aamiin
    Ditunggu certa2nya selama berada di Bima.

  6. Semoga lancar ya mbaaa… Ditunggu kabar dan liputannya tentang kegiatan Kominfo di sana. Semoga Bima segera mendapatkan fasilitas komunikasi yang memadai agar bisa menjadi destinasi unggulan Indonesia.

  7. Halo Mba Sha, pendatang baru di blog ini nih. Salam kenal dari cah Kebumen, penyusup di arisan ilmu Jogja beberapa waktu lalu.
    Kereeen mau tugas negara ke Bima. Semoga lancar, dan yang ditinggal juga aman terkendali ya. Mbok hayuk dolan Bumen, kan berawalan B juga *maksa, wkwk.

  8. Opportunity never come twice, gitu ceunah kata orang bijak. Ikut senang dengan perjalanan ke Bima-nya. Karena klo udah jadi Ibu memang banyak pertimbangannya ya Mbak ?.

    Selamat bertugas Mbak, semoga lancar 🙂

  9. Komenku kok belum nongol yak eheeuu

    Saya belum pernah ke Bima, Ayahku yg udah pernah waktu kampanye di sana. Ayahku bilang pemandangannya asyique. Gimana 3 hari di sana Mbak ? Seru pastinya ya

  10. Bima? Teringat nama tokoh kartun yang terinspirasi dari tokoh pewayangan. Ternyata dia juga termasuk nama suatu daerah. Baiklah Fernando, hehe selamat bertugas dan selalu mengabarkan kebaikan untuk sesama bibuknya bRe

Leave a Reply