Dirgahayu Jogjaku, Cinta Tanpa Akhir

Yogyakarta. Kota yang telah mengajarkan banyak hal. Di kota ini mimpi saya pernah melambung begitu tinggi dan kemudian terhempas, terjun bebas. Menimbulkan luka lebam dan memar di sekujur badan. Jatuh bangun, remuk redam, bahkan nyaris tersungkur kalah dan menyerah. Hingga terpikir untuk meminggir.

Namun kota ini mengajari saya untuk tidak menjadi pecundang yang meninggalkan gelanggang pertandingan. Hidup itu berat dan saya harus berjuang. Menjadi atau tidak menjadi. Tersungkur 7 kali, bangun 8 kali. Perlahan, Jogja mendidik saya untuk berani berdiri di atas kaki sendiri. Meninggalkan semua kepahitan yang pernah menghampiri dan menata hari baru. Jogja menguatkan saya.

Jogja adalah tempat dimana saya mematahkan banyak hati dan patah hati berkali-kali. Namun dengan sejuta pesonanya saya masih tetap berani untuk jatuh cinta lagi. Kota ini mengajari saya bahwa jatuh dan patah adalah dua hal yang berhubungan. Tak perlu takut jatuh hati. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berlabuh dan menambatkan kepada salah satu pemilik hati yang tinggal di kota ini.

Jogja, kota berjuta kenangan, berjuta cerita, cinta tanpa akhir. Terimakasih untuk 1 dasawarsa yang luarbiasa.

Meski kini kau semrawut, mulai macet, hotel dimana-mana, tapi setidaknya saya masih bisa menjumpai senyum ramah orang-orang di pinggir jalan. Jogja, teruslah menyenangkan.

Dirgahayu yang ke 258 Kota Jogja tercinta!

Default image
Elisabeth Murni

Ibu Renjana | Buruh partikelir paruh waktu | Sesekali bepergian dan bertualang.

Articles: 243

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.