Bertahan Melewati Hari-Hari Pandemi

Tanpa terasa sudah 4 bulan saya benar-benar di rumah saja. Jangankan piknik atau pergi ke luar kota, wong menyeberang ring road dan masuk ke area kota saja tidak pernah. Wow, saya merasa takjub dan kagum dengan diri sendiri yang mampu menahan hawa nafsu duniawi #halah.

Selama pandemi ini saya memang benar-benar membatasi pergerakan dan pertemuan. Jika memang tidak penting-penting amat saya tidak akan keluar rumah. Untuk bertemu dengan orang pun saya pilih-pilih. Saya hanya berani bertemu dengan orang-orang terdekat yang saya percayai. Dibilang lebay atau parno? Ya biar sih. Ini sebagai langkah preventif saya saja. Penerapan protokol kesehatan ala Sasha.

Sudah 6 bulan saya tidak mudik ke kampung halaman. Sepertinya sejak 16 tahun meninggalkan Wonosobo, ini adalah durasi terpanjang saya tidak mudik. Level kangen dengan keluarga di rumah sudah sampai ubun-ubun. Tapi saya menahan diri untuk tidak pulang dulu. Mungkin bulan depan, saat Jogja sudah mencabut status tanggap darurat COVID-19, saya baru memberanikan diri pulang naik kendaraan pribadi.

4 bulan di rumah saja dan tidak kemana-mana apakah membuat saya stress? Tentu saja tidak ahahaha. Saya baru menyadari satu hal bahwa ternyata saya bisa cukup adaptif dalam menyikapi perubahan yang terjadi.

Dulunya saya pikir jika jarang bertemu dan ngobrol dengan kawan-kawan, jarang makan enak di luar, jarang jalan-jalan, akan membuat saya stress. Nyatanya saya bisa melalui masa-masa ini dengan baik.

Yang membuat stress bukan perkara #dirumahsaja melainkan lebih soal mendengar banyak berita negatif terkait pandemi yang sliweran di luar sana. Karena itu, demi kesehatan jiwa, saya memilih untuk stop konsumsi kabar yang membuat kesehatan mental saya drop.

Lantas apa yang saya lakukan sebagai bentuk coping mechanism selama pandemi ini? Tentu saja saya sama dengan orang lain dong. Di luar jam kerja reguler saya banyak jalan-jalan di sekitar rumah, masak, dan nonton drama korea hahaha.

Jalan-jalan di sekitar rumah

Jika tidak ada pandemi, saya mungkin tak pernah menyadari bahwa saya tinggal di kampung yang cukup indah untuk dijelajahi. Kemarin-kemarin, hampir setiap pagi saya jalan-jalan bersama Renjana dan Mas Chandra keliling kampung. Kami main ke sawah, melihat keong, bekicot, dan Gunung Merapi yang menjulang gagah.

Sesudahnya, kami menyusuri jalan di pojokan kampung, menyeberang sungai kecil, dan bertemu taman bunga penuh kupu-kupu. Cukup jalan-jalan sejam sudah membuat tubuh sehat dan otak refresh. Ternyata nggak harus piknik ke tempat jauh. Jika mau mengeksplorasi, sebelah rumah pun sudah menarik untuk dijelajahi.

Masak demi konten

Jauh sebelum pandemi, saya sudah rajin masak setiap hari. Gini-gini saya bisa masak, lho. Ya walaupun masaknya cuma itu-itu saja sih. Nggak bervariasi haha. 6 tahun nikah masaknya hanya berkutat di sayur bening, aneka tumisan, asem-asem, dan bobor ahahaha.

Nah, gara-gara di twitter rame tagar #masakdemikonten saya pun jadi ikut-ikutan dong. Mulai masak yang di luar kebiasaan. Mencoba resep-resep baru ternyata menyenangkan juga. Biar #masakdemikonten-nya ndak sia-sia, saya pun memutuskan untuk membuat channel youtub masak-masak dan juga website kitabrasa. Ya siapa tahu kan ya, berawal dari iseng kelak bisa menghasilkan cuan #ngarep. Eits, jangan lupa subscribe ya teman-teman ๐Ÿ˜‰

Nonton Drama Korea

Selama pandemi ini drama korea sepertinya lagi ngehits banget yak. Rasanya semua orang jadi nonton dan ngobrolin drakor haha. Saya sendiri sebenarnya mulai nge-drakor sudah sejak lama. Di SMA dulu sempat ngikutin Autumn in My Heart. Terus saat tahun kedua mulai dijejali drakor oleh teman sekamar, Grace Tobing. Dulu ingat banget kami antri pinjam di rental VCD terus nonton marathon rame-rame di kosan. Abis itu nonton drakor yang ditayangin di Indosiar.

Setelah lulus kuliah sudah jarang banget nonton. Paling sesekali ngikuti yang sedang tayang di TV. Dan akhir-akhir ini saja yang baru nonton intens lewat viu dan layanan streaming lainnya. Dalam 4 bulan terakhir saya sudah menonton ulang The Heirs, Descendant of The Sun, The Doctors, dan Whatโ€™s Wrong With Secretary Kim. Untuk drama terbaru saya sudah menamatkan Hospital Playlist dan When My Love Blooms.

Rencananya mau lanjut serial Reply. Tapi nanti dulu, saya masih hang over dengan Hospital Playlist, belum bisa move on. Jadi ini sedang mengulang nonton sampai episode 10 hahaha. Nonton drama yang ringan dan nggak pakai mikir membuat saya lebih rileks. Udah gitu asupan kebucinan juga terpenuhi haha. Setidaknya mental dan jiwa saya terjaga kewarasannya dengan nonton drama.

Lantas, apakah saya tidak rindu piknik ke tempat jauh?

Oh tentu saja saya kepengen banget piknik-piknik. Tahun ini pengen banget ngasih cap ke paspor yang masih kosong melompong. Tapi dengan kondisi dunia yang seperti ini, traveling lintas negara kan menjadi hal yang cukup ribet dilakukan.

Ada beragam syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah membawa surat bahwa kita bebas COVID-19. Untuk dapat surat tersebut tentunya kita harus melakukan serangkaian tes. Ada yang cukup dengan rapid test ada juga yang harus pcr tes. Ribet banget kan ya? Tapi kan ini semua demi kebaikan bersama.

Gara-gara hal ini saya jadi googling soal tempat pcr test terdekat dari rumah. ย Dan saya jadi tahu dong kalau kita juga bisa mencari dokter/klinik yang melayani PCR lewat website maupun aplikasi Halodoc. Kirain selama ini hanya melayani konsultasi kesehatan biasa saja, ternyata juga melayani rapid test dan pcr test. Infonya cukup membantu sih. Apalagi ada perkiraan biayanya juga, jadi bisa menyiapkan dana.

Melihat hal tersebut sepertinya keinginan untuk traveling ke tempat jauh harus diredam dulu. Sebagai gantinya saya akan memilih pergi ke tempat yang terjangkau dan nggak ada banyak orang berkerumun. Target terdekat adalah camping di Ledoksambi.

Pokoknya begitu status Jogja sudah dicabut saya mau menginap semalam di sana, masak-masak, ciblon di sungainya yang bersih. Hmmmm, terdengar menyenangkan, bukan? Wanna join? Etapi ndak usah gabung ding. Jaga jarak. Jangan berkerumun dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.

Kalau kawan-kawan sendiri, apa yang ingin dilakukan setelah pandemi mereda?

Jogja, 25 Juni 2020
5 hari menuju setengah 2020. Semoga semua masih kuat dan bersemangat menjalani hari-hari.

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

17 Responses

  1. Aku juga dah 4 bulan nggak ke Klaten padahal deket, dan baru sadar jika mager dan ngga ketemu rangorang ternyata juga menyenangkan, hehehe

    • Istilahnya padahal tinggal lompat doang udah sampai Klaten ya mbak. Ya sebenarnya selama kita di rumah ada hal-hal yang dilakukan dan nggak golar-goler doang juga #dirumahaja bisa menyenangkan kok. Kadang yang bikin stress justru karena nggak ngapa2in, mager, pikiran jadi kemana-mana. Aku juga baru sadar, meski aku ekstrovert tapi berdiam gak ketemu banyak orang ternyata bisa juga.

  2. setelah pandemi sih aku jelas mau keluyuran. sebetulnya ada atau enggak ada protokol kesehatan, aku tipe orang yang kalo pergi lebih seneng sendiri atau bareng sama rombongan kecil 2-4 orang gitu. jadi pas ada himbauan buat gaya traveling baru, aku merasa ya udah dari dulu gitu.
    bedanya sekarang kalo mau pergi harus tes kesehatan dulu. hahaha. yang penting sekarang sih bertahan dulu deh.

    • Sama pun, aku juga kebanyakan jalan dalam small group. Lebih enak soalnya dibanding jalan yang rombongan besar. Memang lah sekarang harus tahan diri dulu. Tenang, sebentar lagi. Gitu mantranya hehe.

  3. wening says:

    Yang belum adalah nonton drakor, haha. Entah belum tertarik atau takut kebablasan. Tapi suka ngepoin review orang-orang wkwkwk

  4. Nasirullah Sitam says:

    Aku selama pandemi lebih banyak baca buku mbak. Lumayan lah, jarang-jarang baca buku selama ini.

    Selain itu , sesekali masak bareng kawan kos. Kalau sekarang sudah balik beli lagi

  5. Halo Mbak, kayaknya ini kali pertama saya mampir ke blog ini.
    Salam kenal.

    Saya juga sudah beberapa bulan ini full wfh. Tidak kemana-mana, di rumah saja.
    Baru dua minggu ini kantor saya menjalankan aturan bekerja di kantor tapi tidak full.
    Kegiatan selama di rumah adalah bekerja seperti biasa. Cuma tempat bekerjanya saja yang berubah menjadi di rumah.

    Kalau pandemi ini sudah berkurang, saya tetap akan stay at home. Menghindari tempat umum yang memungkinkan saya bertemu dengan banyak orang yang tak saya kenal betul. Sebab pandemi berkurang itu tidak berarti virusnya telah hilang, hanya penularannya saja yang tidak besar-besaran.

    Berat sih, tapi semoga kami semua sanggup menjalaninya.
    Sehat selalu ya Mbak.

    • Halo salam kenal, Mas. Selamat datang di blog saya ๐Ÿ™‚
      Memang sebaiknya seperti itu ya. Sebisa mungkin tetap menghindari tempat umum dan keramaian sebagai langkah antisipasi diri. Saya juga melakukan hal yang sama. Semoga kita semua dikuatkan melewati ini semua. Sehat dan tetap bahagia ๐Ÿ™‚

  6. Nonanomad says:

    Nonton drakor lumayan juga bisa menghilangkan kebosanan dan melewati sehari hari haha. Aku juga jadi sering masak yang sehat2 aja. Sekarang udah lumayan terbiasa jadi di rumah gak kemana2 heppi2 aja hehe.

    • Trueeee ahahaha, asal ceritanya yang menarik sih. Bukan yang justru bikin kesal dan emosi hehe.
      Pada akhirnya kita semua akan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi ya, kak.

  7. Aqied says:

    Aku suka banget kalo Mb Sasha posting foto-foto hasil jalan jalan pagi nya.
    Gatau nih sekarang malah mulai merasa nyaman banget di rumah ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ

  8. aku pun rekor iniiii, berbulan-bulan di rumah aja, beda bgt sama tahun lalu, 180 derajat T_T ..

    hikmahnya, selama pandemi ini rajin nulis utang artikel perjalanan.

Sharing yuk!